Ketika Novel
yang Lama Buntu Akhirnya Menemukan Jalannya
Asiabutterflytraveler.com- Bersih-bersih file di laptop, eh pas baca satu file mengenai tulisan
calon novel yang belum terselesaikan. Ada keinginan untuk kembali menulis kisah
yang belum tuntas. Sejujurnya, keinginan untuk menuntaskan novel ini sudah sejak
lama, hanya saja tidak ada waktu untuk menyentuh file tersebut. Apalagi
terakhir kali menulis draft novel itu, writer block untuk bab selanjutnya. Sehingga
novel itu baru sebatas draft yang hampir terlupakan.
Keinginan untuk menuntaskan ini
sudah lama ada. Belakangan ini ketika membuka laptop untuk melanjutkan menulis
novel ada saja gangguan, mulai dari tiba-tiba ada beberapa karakter yang kadang
tiba-tiba hadir dalam benak kepala. Padahal, sebelum membuat novel sudah
mengetahui akhir dari cerita yang hendak ditulis. Namun, dipertengahan jalan,
selalu saja ada karakter yang muncul yang bisa mengubah alur cerita. Hal itulah
yang kadang membuat aku jadi tidak bisa melanjutkan bab selanjutnya.
Selain
itu, terkadang saat membuka laptop dengan niat mau melanjutkan menulis cerita,
ada saja gangguan. Bukan hal besar, namun hal kecil yang justru membuat aku
tidak fokus menulis, seperti notif whatsapp, sosial media. Bahkan email
pekerjaan yang belum dibalas dan yang paling
kesal ketika rasa malas datang
tanpa alasan jelas dan membuat
kursor berkedip di ujung kalimat yang sama, yang menunggu aku melanjutkan. Sementara aku malah menutup laptop dan berjanji
akan melanjutkan besok saja.
Aku berpikir masa ia sih, aku kehabisan
ide? Setelah berpikir, aku menyadari,
bukan itu masalahnya. Aku tidak
kehilangan cerita. Aku hanya
kehilangan ruang untuk kembali pada draft novel. Terlalu banyak rutinitas yang membuat kepala penuh,
sampai tidak ada lagi tempat kosong untuk imajinasi bekerja. Ku rasa, aku butuh jeda.
Bali yang Sudah Lama Direncanakan
Eh, aku teringat jatah cuti aku
hampir hangus dan kebetulan aku memiliki voucer hotel di Bali. Sudah lama jadi
waiting list untuk liburan ke Bali. Rencana yang sudah lama tersusun sejak
tahun lalu selalu kalah prioritas dengan pekerjaan, deadline, dan seribu
satu alasan lain yang tidak bisa
ditinggalin.
Memang dari awal, selain memenangkan
voucer hotel di Bali, aku memang ingin melanjutkan menulis novel di Bali. Jadi,
tidak sekadar untuk berjalan-jalan atau memotret sunset untuk diunggah di sosial media. Aku ingin punya waktu, meski
hanya beberapa hari, tanpa rutinitas yang sama. Tanpa jadwal yang membuat aku harus menuntaskan satu
tugas ke tugas lain yang
membuat aku tidak bisa berpikir jernih. Akhirnya, aku mengambil kesempatan itu untuk liburan
ke Bali.
Tiket sudah dipesan untuk dua hari
kedepan, aku segera merapikan beberapa pakaian ke dalam koper dan laptop
dimasukkan ke dalam tas,
termasuk notebook kecil dan
pulpen favorit tidak lupa dibawa. Ini kebiasaan lama yang tidak pernah aku tinggalkan sejak dulu, meski sudah
terbiasa mengetik di laptop.
Namun, ketika ada ide yang datang tiba-tiba, aku lebih suka menuangkannya dalam
bentuk menulis di buku. Setelah selesai berkemas, ada harapan aku bisa menemukan kembali
cerita itu di Bali.
Bali Bukan Sekadar Liburan
Hari pertama di
Bali, aku sengaja tidak
membuat rencana ketat. Pagi ku
dimulai dengan secangkir kopi di balkon penginapan, mendengar suara
ombak dari kejauhan yang datang dan pergi seperti napas. Tidak ada suara
klakson, tidak ada deadline yang harus diselesaikan. Bahkan, ponsel pun dalam keadaan mati.
Seakan-akan sudah lama aku tidak
merasakan bisa duduk lebih lama dari biasanya. Bahkan, aku bisa duduk sambil melihat
beberapa orang yang sudah menikmati suasana pantai. Aku merasa bebas, santai tanpa harus
mengejar waktu untuk bekerja dan mengurus anak. Waktu pun tidak terasa sudah
menjelang sore. Beneran me time, sore harinya aku membawa laptop ke tepi
pantai. Awalnya hanya
berniat menikmati pemandangan.
Aku menghidupkan laptop, entah
bagaimana tangan ku sepertinya bergerak sendiri mulai
mengetik. Bukan sekedar
beberapa kata, melainkan
serangkaian kata yang berubah menjadi sebuah paragraf, berlanjut menjadi satu
halaman dan beberapa halaman berikutnya.
Rupanya, pikiran ku yang tidak bisa
melanjutkan menulis novel ini salah. Aku sempat berpikir, aku kehilangan ide
untuk menulis. Mungkin
aku hanya terlalu lama berada di tempat yang sama, melakukan hal yang
sama, sehingga lupa
bagaimana rasanya relax dan
tenang. Tanpa
ku sadari waktu berlalu dengan cepat. Novel
yang selama ini terasa mati ternyata perlahan hidup kembali, seperti api kecil
yang akhirnya menemukan angin yang tepat.
Terlalu Larut dalam Menulis, Mata Mulai
Berubah
Aku terlalu sangat bersemangat, waktu terasa
berjalan lebih cepat
dari yang kukira. Mengetik di laptop dan membaca ulang,
memperbaiki EYD, dan melanjutkan menulis.
Sesekali aku mengecek
referensi kecil di ponsel, kemudian kembali menatap layar laptop. Begitu terus,
berulang-ulang, tanpa jeda yang berarti.
Apalagi sebagian besar waktu,
aku habiskan di luar ruangan, angin
pantai, sinar matahari sore, dan udara yang berbeda di kota Tanjungpinang. Semua itu terasa sangat menyenangkan, rupanya cuaca diluar memberi pengaruh
yang tidak aku sangka.
Setelah beberapa
jam menulis tanpa henti, aku mulai
merasa ada yang berbeda pada mataku. Awalnya hanya terasa sepet, seperti ada sesuatu yang
mengganjal setiap kali berkedip. Aku mencoba mengedipkan mata beberapa kali, berharap rasa itu
hilang dengan sendirinya. Eh lama-kelamaan,
mata aku mulai terasa
perih dan lelah.
Ini bukan
sekadar tidak nyaman. Konsentrasi menulis pun ikut terganggu. Kalimat yang tadinya mengalir dengan lancar
tiba-tiba harus berhenti di tengah jalan, karena aku lebih sibuk mengucek mata daripada
memikirkan kelanjutan cerita.
Ketika Mata Menghentikan Cerita
Ada sesuatu yang
cukup ironis dari situasi ini. Aku
pergi liburan ke
Bali dengan niat dan tujuan menyelesaikan
cerita yang sudah lama tertunda.
Namun harus berhenti menulis dikarenakan
mata yang tidak lagi bersahabat. Awalnya, aku tidak mengetahui apa penyebabnya, tetapi aku sadar dengan menatap layar terlalu lama,
semakin tidak nyaman rasanya. Mata terasa sepet, perih, dan lelah secara
bergantian, kadang datang bersamaan.
Ada keinginan
kuat untuk sekadar memejamkan mata dan mengistirahatkannya sejenak. Namun cerita di kepala
rasanya sayang sekali kalau dibiarkan menguap begitu saja. Akujadi teringat, ini bukan pertama
kalinya aku mengalami
gejala mata kering seperti ini. Hanya saja biasanya terjadi di kantor, dengan
pencahayaan ruangan yang stabil dan AC yang menyala sepanjang hari. Kali ini,
kombinasi layar laptop, angin pantai, dan sinar matahari membuat gejalanya
terasa lebih cepat datang.
INSTO DRY EYES yang Ada di Dalam Tas
Untungnya, aku membawa INSTO DRY EYES. Aku memang
punya kebiasaan menyimpan obat
tetes mata di dalam tas.
Apalagi pekerjaan ku banyak
berhubungan dengan layar baik
ponsel maupun laptop. Aku
mengeluarkan Insto Dry
Eyes dari dalam tas.
Aku menggunakannya
sesuai anjuran, meneteskan
beberapa tetes Insto Dry Eyes pada mata sebelah kanan dan kiri.
Setelahnya, aku memberi
waktu bagi mata untuk benar-benar beristirahat, menutup laptop sejenak, memejamkan
mata, dan membiarkan pandangan aku
beralih ke pemandangan laut
yang jauh.
Kenapa Memilih INSTO DRY EYES Saat
Traveling?
Aku suka kemasan dari Insto Dry Eyes
botolnya kecil dan sangat praktis dibawa kemana saja. Apalagi Insto Dry Eyes
ini memang ditujukan untuk membantu meredakan gejala mata kering seperti
yang ku alami saat itu.
Ukuran botol yang kecil membuatnya
muat di kantong depan tas, jadi aku
tidak perlu membongkar seluruh isi tas hanya untuk mencarinya.
Bagi aku yang sering
berpindah tempat saat menulis dari
kamar penginapan ke kafe, lalu ke tepi pantai. Kepraktisan semacam ini jadi pertimbangan penting.
Bahan INSTO yang Membuat Aku Ingin Tahu Lebih Banyak
Sebelum
benar-benar terbiasa menggunakannya, aku sempat mencari tahu lebih banyak mengenai bahan INSTO dan
fungsi dari produk yang aku gunakan.
Dikemasan INSTO DRY
EYES, tercantum Hydroxypropyl methylcellulose sebagai bahan aktifnya. Asal teman tahu, aku bukan
orang yang mengerti mengenai formulasi
obat, tetapi rasanya
penting bagi aku untuk mengetahui
yang kita pakai,
terutama yang berhubungan langsung dengan mata. Informasi pada kemasan Insto cukup membantu aku merasa tenang
saat menggunakannya. Aku tahu
persis yang aku teteskan
dan untuk apa fungsinya.
Oh ya, awal mengenal Insto Dry Eyes
ini tahun lalu, dikarenakan ada lomba menulis Insto Dry Eyes yang
diselenggarakan Blogger Perempuan. Berawal sekedar ikut menulis, eh malah jadi
salah satu teman wajib yang ada di dalam tas. Tidak hanya karena berlama-lama
di layar kaca, tetapi cuaca yang panas ketika berada di luar ruangan. Setelah berada di dalam ruangan ber
AC bisa menyebabkan mata jadi kering. Itulah sebabnya, aku beruntung banget
mengenal Insto Dry Eyes ini untuk masalah mata kering. Inovasi Insto terhadap
obat tetes mata ini sangat baik, aku kira insto hanya untuk sakit mata.
Kembali Menulis
Setelah
menggunakan INSTO DRY EYES dan memberi waktu istirahat mata, rasa sepet dan
perih yang tadinya mengganggu perlahan mereda. Aku bisa kembali membuka laptop tanpa
harus berkedip berkali-kali hanya untuk merasa nyaman.
Ketika mengetik, aku tidak
memaksakan diri. Aku menulis
satu paragraf, berhenti sebentar, melihat laut, lalu kembali menulis. Ada
jeda-jeda kecil yang sengaja aku
berikan, bukan
karena malas, tetapi karena
aku belajar bahwa
menulis tanpa henti bukan berarti menulis dengan baik.
Dan akhirnya,
bab yang selama ini buntu mulai bergerak lagi. Masalah yang tadinya terasa rumit di
kepala. Perlahan
aku menemukan jalan keluarnya. Mungkin yang aku butuhkan selama ini bukan tempat
baru untuk menulis. Melainkan ruang
untuk bisa merasa tenang. Tidak heran memang, kalau Bali
menjadi banyak pilihan pekerja remote dari luar negeri sebagai tempat mereka
tinggal sementara. Vibenya yang ciamik, deru suara ombak dan pemandangan
sunsetnya memang magic banget!
Tips Mata untuk Penulis yang Sering Menatap
Layar
Dari pengalaman
ini, ada beberapa hal kecil yang aku coba terapkan, terutama untuk siapa pun yang pekerjaannya
banyak berhubungan dengan layar.
Terapkan jeda saat menulis. Jangan terus-menerus menatap layar tanpa
istirahat, meski sedang dalam momen produktif sekalipun. Sesekali, alihkan pandangan. Melihat
objek yang jauh, terutama saat menulis dalam waktu lama, membantu mata untuk
tidak terlalu tegang.
Jangan lupa
berkedip. Saat terlalu fokus mengetik atau membaca, kita sering lupa berkedip
secara alami. Kurangi screen time
yang tidak perlu. Kalau sudah seharian menulis, jangan langsung menghabiskan
waktu istirahat dengan scrolling media sosial. Terpenting adalah minum air yang cukup,
terutama saat traveling dan beraktivitas di luar ruangan.
Perhatikan kondisi sekitar. Angin, debu, dan paparan sinar matahari langsung bisa membuat mata terasa kurang nyaman lebih cepat dari biasanya. Siapkan INSTO DRY EYES sebagai bagian dari perlengkapan perjalanan, dan gunakan sesuai petunjuk pada kemasan jika mulai mengalami gejala mata kering seperti sepet, perih, atau lelah.
Kesimpulan
Aku datang ke Bali dengan
harapan bisa menemukan kembali cerita yang sudah lama hilang arah. Ternyata aku menemukan lebih dari itu.
Aku menemukan kembali
alasan mengapa sejak awal aku ingin
menulis.
Aku yakin liburan seminggu di Bali, Novel
itu akan selesai90 persen. Ketika
aku pulang nanti aku bisa menyelesaikannya. Setidaknya,
ceritanya kembali berjalan, kalimat demi kalimat, seperti dulu. Dan mungkin, memang seperti itulah
hidup. Kita tidak selalu membutuhkan jawaban besar. Kadang kita hanya
membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak, melihat jauh ke depan, lalu mulai
menulis satu kalimat lagi.
Termasuk belajar
menjaga diri sendiri ketika mata mulai terasa sepet, perih, dan lelah. Karena
mata SePeLe jangan disepelein,
terutama ketika kita sedang mengejar sesuatu yang sudah lama kita
impikan. Ingat #MataSePeLeJanganSepelein diteteskan aja dengan #InstoDryEyes. Sudah bisa dipastikan #BebasMataKering








No comments